Oleh : Idha Mahendra Kusmiyanto (B95219102)
A.
Media
a.
Pengertian media
Media adalah alat saluran komunikasi.
Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak kata medium.
Secara harfiah, media berarti perantara, yaitu perantara antara sumber pesan (a
source) engan enerima psan (a receiver). Beberapa hal yang termasuk ke dalam
media adalah film, televise, diagram, media cetak (printed material), computer,
dan lai sebagainya. [1] Media
merupakan alat yang dapat membantu dalam keperluan dan aktivitas, yang dimana
sifatnya dapat mempermudah bagi siapa saja yang memanfaatkannya. Media menjadi
salah satu saluran yang banyak digunakan pada saat ini, seperti sebagai media
pembelajaran, media berkomunikasi dan lain sebagainya. Hal ini dapat dilihat
dari fungsi daripada media itu sendiri, selain digunakan sebagai penyampaian
suatu informasi, media dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan ide,
pendapat atau pandangan kepada semua orang. Tak hanya itu, fungsi dari media
juga dapat digunakan sebagai sarana pendidikan, hiburan, relaksasi hingga
sebagai sarana untuk melakukan kontrol sosial kepada masyarakat.
b. Jenis jenis media
Media sangat dibutuhkan oleh semua orang karena dengan adanya media, kegiatan berinteraksi yang dilakukan dapat dipastikan berjalan dengan baik. Adapun jenis-jenis media menurut Oemar Malik (1986), Djamarah (2002) dan Sadiman dkk (1986) dibedakan menjadi tiga, berikut diantaranya adalah: [2]
1 Media
audio : Disini dapat dijelaskan jika media audio merupakan media dari suatu
informasi yang disampaikan melalui indera pendengaran, seperti radio.
2 Media
visual : Disini dapat dijelaskan jika media visual adalah media dari suatu
informasi yang disampaikan melalui indera penglihat, seperti dalam bentuk
gambar.
3 Media
audio visual : Disini dapat dijelaskan jika media audio visual adalah media
suatu informasi yang disampaikan melaui indera penglihat dan pendengaran,
seperti televisi.
B.
Ruang Publik
a.
Pengertian ruang publik
Ruang publik adalah ruang yang
berfungsi untuk tempat menampung aktivitas masyarakat, baik secara individu
maupun secara kelompok, dimana bentuk ruang publik ini sangat tergantung pada
pola dan susunan massa bangunan. [3]
Menurut Carr dkk [4], tipologi
ruang publik penekanan kepada karakter kegiatannya, lokasi dan proses pembentuknya.
Carr dkk membagi tipologi ruang publik diantaranya adalah: Jalan, taman
bermain, jalur hijau, perbelanjaan dalam ruang, ruang spontan dalam lingkungan
hunian, ruang terbuka komunitas, square dan plaza, pasar, tepi air. Carr mengemukakan
adanya keterlibatan pasif (passive engagement) dan aktif (active engagement)
dalam pemanfaatan ruang publik. Kedua bentuk pengalaman ini terjadi sebagai
akibat adanya proses interaksi tersebut, dimana pengguna ruang publik dapat
melakukan interaksi dengan cara yang berbeda. Ruang sebagai wadah harus mampu
menyediakan lingkungan yang kondusif bagi terpenuhinya syarat interaksi, yaitu
memberi peluang bagi terjadinya kontak dan komunikasi sosial. Interaksi sosial
dapat terjadi dalam bentuk aktivitas yang pasif seperti sekedar duduk menikmati
suasana atau mengamati situasi dan dapat pula terjadi secara aktif dengan
berbincang bersama orang lain membicarakan suatu topik atau bahkan melakukan
kegiatan bersama.
b.
Bentuk ruang publik
Berdasarkan
proses pembentukannya, Brodin [5] membagi ruang publik, menjadi:
· Ruang
publik metafora (Metaphorical Publik Space), Dalam ilmu bahasa, metafora dapat
berarti ungkapan atau gaya bahasa (majas) menggunakan kiasan dengan
membandingkan sesuatu dengan hal lain (analogi). Terjadi pergeseran makna atas
objek atau kalimat yang mendapat majas. Ruang dimaknai tidak menurut perwujudan
fisik atau fungsi, tetapi bagaimana peranan ruang tersebut. Ruang berperan
untuk mewadahi isinya yaitu hubugan antar manusia. Ruang terbentuknya dalam
konteks sosial yaitu dari proses komunikasi antar manusia.
· Ruang
publik harfiah (Literal Publik Space), Ruang dimaknai secara langsung sesuai
sifat fungsional dan pelingkupan fisiknya. Ruang publik ipandang tidak
terbentuk dari aktivitas atau proses komunikasi, tetapi berdasarkan adanya
kases. Untuk itu diperlukan pemahaman menganai tipologi ruang menurut fungsi
dan bentuk ruang dan aksesibilitas perlu diteliti lebih lanjut. Bentuk ruang
dan aksessibilitas kemudian dapat mengembangkan atau menurunkan sifat publik
suatu ruang.
c.
Peranan ruang publik
Menurut
Carmona [6] peranan ruang publik, yakni:
1
Ekonomi
:
-
Memberi
nilai yang positif pada nilai properti
-
Mendorong
performa ekonomi regional
-
Dapat
menjadi bisnis yang baik
2
Kesehatan
:
-
Mendorong
masyarakat untuk aktif melakukan gerakan fisik
-
Menyediakan
ruang informasi dan formal bagi kegiatan olahraga
-
Mengurangi
stres
3
Sosial
:
-
Menyediakan
ruang bagi interaksi dan pembelajaran sosial pada segala usia
-
Mengurangi
resiko terjadinya kejahatan dan sikap anti-sosial
-
Mengurangi
dominasi kendaraan bermotor sehingga angka kecelakaan berkurang
-
Mendorong
dan meningkatkan kehidupan berkomunitas
-
Mendorong
terjadinya interaksi antarbudaya
4
Lingkungan:
-
Mendorong
terwujudya transportasi berkelanjutan
-
Meningkatkan
kualitas udara, mengurangi efek populasi
-
Menciptakan
kesempatan untuk berkembangnya keanekaragaman hayati.
-
Pendekatan
Umum Ruang Publik
Kesimpulan
Berbicara mengenai
media, media memiliki peran yang dapat membawa pengaruh dalam kehidupan
bermasyarakat, karena media sendiri memiliki kekuatan yang besar untuk mengecoh
pemikiran masyarakat. Dalam arti kala lain, media mampu mempengaruhi masyarakat
dan mendorong masyarakat untuk setuju atau tidak setuju akan sebuah informasi
yang diberi oleh media itu sendiri. Ruang adalah bagian yang tak terpisahkan
dari kehidupan manusia selama masa hidupnya. Bahkan konsepsi ruang tersebut
masih ada pada manusia yang telah meninggalkan dunia ini walaupun konsepsi
ruang itu sendiri sudah berbeda pada masing-masing penganut agama dan
kepercayaan. Dari berbagai macam bentuk dan kategori seluruh ruang maka ruang
publik adalah ruang yang paling banyak digunakan oleh semua orang baik sendiri
maupun secara bersamaan. Begitu banyaknya aktivitas dan berbagai lapisan
golongan masyarakat yang menggunakan ruang publik membawa interpretasi
masing-masing yang cukup berbeda. Dari interpretasi inilah timbul begitu banyak
ragam penggunaannya baik yang sesuai dengan fungsi maupun berdasarkan intrpretasinya
masing-masing.
Daftar pustaka
[1] Indriana, Dian.
Ragam Alat Bantu Pengajaran,cet pertama. (Jogjakarta: DIVA Press, 2011), hal 13
[2] Hamzah, Nina
Lamatenggo, “Teknologi Komunikasi dan Informasi Pembelajaran”,
(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011)”: 121.
[3] Hakim, Rustam,
Ir. 1987. Unsur Dalam Perancangan Arsitektur Landscape. Jakarta: Balai Pustaka.
[4] Carr, Stephen,
Public Space,Cambridge Uniersity Press, Cambridge, 1992
[5] Brodin, 2006.
Ruang Publik. Eksplorasi Sebuah Konsep. Pertemuan Tahunan Asosiasi
Ilmu Politik Barat Albuquerque, 16 – 18 Maret 2006
[6] Carmona, dkk
2008. Ruang Publik : Dimensi Manajemen. Routledge, Taylor & Grup
Francis. New York, AS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar